Niat Promosi Budaya Sumenep di YouTube Sumenep Menyapa, Eh Malah Keris Solo yang Nongol, Ajaib Memang

Jumat, 09 Januari 2026, 23:30
Gagal Fokus Promosi Budaya Sumenep di YouTube Sumenep Menyapa Malah Salah Pajang Foto Keris Solo


  • Program "SUMENEP MENYAPA" yang seharusnya jadi ajang pamer budaya lokal malah jadi ajang pamer keris asal Surakarta di layar kaca.
  • OPD Sumenep dikritik pedas karena dianggap tidak bisa membedakan identitas keris Madura dengan gaya Ladrang Solo yang muncul di YouTube.
  • Kurator budaya menyebut kejadian ini sebagai komedi tragis dan tamparan keras bagi pemerintah yang hobi promosi tapi kurang literasi.


ETOLESA.WEB.ID - SUMENEP - Niat hati ingin pamer kehebatan tradisi ke publik nasional lewat program SUMENEP MENYAPA, apa daya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep justru terjebak dalam drama salah kostum visual yang bikin tepok jidat. 

Dalam siaran langsung media milik negara dan kanal YouTube pada Jumat (9/1/2026), penonton bukannya terpukau oleh keanggunan seni Madura, melainkan dibuat bingung oleh penampakan artefak yang nyasar dari Jawa Tengah.

Mengutip Peka Aksara (9/1/2026), saat tiga pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) asyik berdongeng tentang kejayaan lokal, layar monitor justru dengan gagahnya menampilkan keris gaya Surakarta model warangka Ladrang. Ini tentu sebuah "prestasi" unik: bicara Sumenep tapi yang nongol Solo, sebuah blunder visual yang membuat jargon promosi budaya terasa seperti lelucon di siang bolong.

Pemilik Helmi Art Museum yang juga seorang Kurator Keris tidak bisa menahan rasa herannya. Baginya, ini bukan sekadar salah klik folder foto di komputer, melainkan bukti nyata betapa tipisnya pemahaman para pejabat tentang "barang dagangan" budaya yang mereka bawa.

“Niatnya memang bagus, ingin memasarkan budaya Sumenep ke publik nasional. Tapi penyampaiannya keliru. Yang ditampilkan justru keris gaya Surakarta,” ujarnya.

Padahal, Sumenep adalah gudangnya empu keris dengan koleksi model yang bejibun. Sang kurator menekankan bahwa keris Madura punya harga diri, karakter, dan filosofi yang sangat kontras dengan gaya Surakarta yang dipajang di layar tersebut.

“Kalau bicara budaya Sumenep, yang ditampilkan seharusnya identitas Sumenep, bukan budaya daerah lain. Ini bukan sekadar salah gambar, tapi salah pemahaman,” tambahnya.

Kritik pedas pun mengalir, menyebut insiden ini sebagai tamparan yang cukup keras untuk membangunkan Pemkab dari mimpi indah promosi tanpa riset. Memperkenalkan budaya sendiri tapi malah memakai simbol tetangga di level nasional dianggap sebagai krisis identitas yang cukup akut.

“Ini memalukan. Bicara budaya daerah sendiri di ruang publik nasional, tapi simbol yang ditampilkan malah budaya luar. Seolah-olah kita tidak punya identitas,” tegasnya.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bahwa promosi butuh lebih dari sekadar anggaran dan kamera, melainkan juga pengetahuan dasar agar tidak lagi tertukar antara jati diri sendiri dengan milik orang lain. Semoga ke depannya tim kreatif dan pejabat terkait lebih sering main ke museum daripada sekadar cari gambar di mesin pencari.


(*)

TerPopuler

close